You are currently viewing Al Firdaus Sebuah Jawaban

Al Firdaus Sebuah Jawaban

Al Firdaus Sebuah Jawaban

(dr. Nadjibah Yahya. Dipl. CIBTAC orang tua dari Isa, Yahya, dan Zakaria)

Cerita tentang Al Firdaus adalah cerita panjang dalam kehidupan saya. Berangkat dari sebuah cita-cita menjadi guru sejak kecil menyebabkan semua aktivitas yang saya lakukan adalah kegiatan yang dekat dengan pendidikan walau saya berada di jalur medis. Saya sering sekali mengikuti seminar-seminar atau pelatihan tentang pendidikan anak. Lewat kegiatan-kegiatan itu tersadar bahwa sekolah adalah tempat terpenting bagi anak-anak untuk berkembang. Maka mencari sekolah yang baik adalah kunci penting untuk mengantarkan anak mencapai prestasi terbaiknya. Tapi ternyata mencari sekolah yang ideal bagai mencari mutiara terpendam. Saat itu mencari sekolah tidak mudah dan pilihan tak banyak.

Saat awal bertugas sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di sebuah desa, saya kembali harus berjuang di dunia pendidikan anak di sana. Hal ini membuat saya kembali bertemu dan berkolaborasi dengan para pakar pendidikan. Kesempatan ini mengantarkan saya untuk bisa hadir bersama teman seperjuangan ke Yogyakarta guna belajar tentang sekolah Islam yang baik.

Kala itu saya mendengar langsung tentang Al Firdaus lewat lisan pendirinya, Bunda Eny Rahma Zaenah. Inilah awal mula pesona Al Firdaus saya reguk. Jika beliau membuat sekolah Al Firdaus ini guna menyediakan sekolah unggul untuk anak anaknya,saya sendiri menyiapkan sekolah unggul untuk calon anak-anak saya. Mengapa calon, karena saat itu saya belum menikah. Hasil seminar kala itu sangat membantu saya dan teman-teman untuk membuat sekolah yang sedikit berkonsep seperti Al Firdaus.

Lewat acara tersebut mulai saya kenal Al Firdaus lewat tujuan dibangun dan cita-cita besarnya. Saya jadi kagum. Sebuah istilah “sekolah surganya anak-anak” dan “sekolah ramah anak” sedang dibangun. Jauh sebelum semangat itu gencar disuarakan saat ini.

Semenjak anak pertama lahir mulailah inden mendaftar di Al Firdaus. Begitu usia anak pertama dua tahun langsung masuk ke Al Firdaus. Mulai saat itulah saya melihat sekolah yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Mulai dari gedung dan penataan ruangnya yang benar-benar mencerminkan sekolah ramah anak sampai tenaga pengajarnya yang ramah dan paham betul tentang konsep pendidikan. Saat itu saya merasa teori-teori pendidikan yang saya dapat dulu sedang diimplemenatsikan saat ini.

Al Firdaus merupakan sebuah sekolah inklusi ternyata justru membuat anak-anak terasah rasa pedulinya dengan sesama. Di sekolah inklusi ini anak-anak dapat mengambil banyak hikmah saat bersama dengan ABK (anak berkebutuhaan khusus). Anak-anak bukan saja bisa menjadi teman yang baik bagi ABK, tetapi bisa juga menjadi penjaga yang baik sekaligus guru yang baik untuk teman ABK-nya. Ini anugerah lain yang saya temui saat anak-anak sekolah di sekolah inklusi.

Apakah Al Firdaus tidak ada kekurangan? Tentu saja tidak demikian, seperti sekolah-sekolah lain, Al Firdaus juga mempunyai kekurangan. Tapi saya sadar tidak mungkin kita bisa menemukan sekolah yang sempurna seluruhnya, jika mau cari yang seperti ini mungkin kita harus simpan mimpi kita ini dan rela melihat anak tidak sekolah. Yang terpenting saat memilih sekolah buat anak lebih tertuju pada kepentingan anak semata, sehingga beberapa kekurangan yang ada justru bisa menjadi bahan msukan ke Al Firdaus untuk semakin berkembang.

Apa artinya orang tua tidak perlu didengar juga suaranya dalam pemilihan sekolah? Tidak juga demikian, harapan orang tua juga patut dipertimbangkan. Jika orang tua ada ganjalan, Al Firdaus sangat terbuka dengan segala masukan dari orang tua. Sejak bergabung dalam komite sekolah Al Firdaus yang di sebut Ikaf (Ikatan Keluarga Al Firdaus) saya semakin menyadari di sekolah ini posisi orang tua juga sangat penting.

Saat berada di TPP Al Firdaus sampai saat ini, saya mengetahui sinergi tiga pilar sudah berjalan dengan sangat baik (antara siswa, guru atau yayasan dan orang tua). Sebuah segitiga emas yang patut dipertahankan. Banyak sekali masukan dan saran dari komite didengar sekolah, sehingga sinergi tiga pilar ini tak jarang mampu menghadirkan manfaat yang begitu besar bagi semua pihak.

Sepertinya Allah SWT akan mengumpulkan orang dengaan apa yang ia sukai. Alhamdulillah, saat berada di pengurus Ikaf, kami komite sekolah di TPP Al Firdaus ini diajak Fataha (salah satu unit di Al Firdaus) untuk membentuk sekolahnya orang tua. Sebuah mimpi akan rindu akan sekolahnya orangtua benar-benar hadir di depan mata. Mulailah kami menyusun kepengurusan dan terbentuklah Aorta. Aorta adalah singkatan dari akademi orangtua Indonesia Surakata. Di sinilah kami para orangtua Al Firdaus dididik untuk menjadi pengelola sekaligus peserta untuk mendapatkan ilmu-ilmu pendidikan dan lain-lain. Akan teramat sulit mencari sekolah yang melibatkan orang tua sekaligus mendidik orang tua sampai sejauh ini.

Tahun demi tahun berlalu tak terasa sampai saat ini sudah 13 tahun lebih saya bekerja sama dengan Al Firdaus. Ibarat hubungan pernikahan, di usia ini kami bisa saling mengenali. Kami mengenali target apa yang akan dikejar Al Firdaus serta cara memperolehnya dan Al Firdaus pun semakin mengenali kami. Mengenali tipikal kami sebagai orang tua dan kemampuan akademik dan karakter anak-anak. Tentu saja bakat dan talent anak-anak juga. Hubungan harmonis ini akan terus kami pertahankan.

Saat pandemi covid-19 hadir menyapa dunia, semua sendi kehidupan lumpuh. Terrmasuk pendidikan. Bukan Al Firdaus namanya jika tidak segera mengubah pola transfer ilmu. Bertahap memang, tapi pasti. Di bulan pertama masih sebatas mengirim tugas lewat wa grup (wag). Tetapi tak lama kemudian sudah ada aplikasi khusus tempat memori dan mengirim tugas yang disebut classdojo di SD dan moodle di SMP SMU. Lebih terarah dan terdokumentasi dengan baik. Orang tua bisa juga ikut masuk dan memantau serta memberi komentar. Pertemuaan langsung via online masih jarang-jarang dilakukan . Kami sebagian orang tua sudah semakin lega karena learning loss yang sangat kami takutkan sedikit terjawab.

Tidak cukup sampai di situ, pembelajaran jarak jauh tetap berkembang. Sampai pada tahap pembelajaran dalam jaringan (daring) bisa dilaksanakan sepanjang hari dengan beberapa kali pertemuan daring dengan guru-gurunya. Pembelajaran jarak jauh ini nyaris sempurna, kami sampai berharap pembelajaran jarak jauh ala Al Firdaus tidak akan hilang begitu saja walau pandemi sudah berakhir. Sebuah pencapaian besar bagi Al Firdaus, mengingat sangat jarang sekolah lain yang seperti ini.

Pandemi covid-19 tidak membuat Al Firdaus berhenti berinovasi. Blended learning dan hybrid learning bisa berjalan dengan baik. Sebuah mimpi yang bisa menjadi kenyataan yang dipercepat dengan adanya pandemi covid-19.

Pembelajaran jarak jauh memang tetap tidak disukai oleh beberapa anak. Al Firdaus menyelesaikan masalahnya dengan mendatangkan anak-anak tersebut ke sekolah agar bisa didampingi saat memahami pelajaran dan mengerjakan tugas. Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Semua siswa juga mendapat konseling per siswa dengan jarak jauh untuk mengetahui bagaimana kondisi psikis semua siswa.

Untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) pembelajaran dilakukan dengan home visit dan kadang didatangkan ke sekolah. Ini artinya semua siswa bisa mendapat pendidikan dengan baik. Sekolah lain lebih cenderung mempercepat pembelajran tatap muka walau sangat besar resiko di bidang kesehatan dan ini sedikit banyak mempengaruhi tingkat penularan covid-19. Bangga karena Al Firdaus sangat memperhatikan masalah kesehatan masyarakat.

Saat ini saya kembali berkesempaatan bertemu dengan para pakar pendidikan. Banyak pembahasan tentang pendidikan di masa depan yang kami bahas. Banyak hal yang dulu saya belum tahu saat ini jadi semakin yakin dengaan gaya pembelajaran yang Al Firdaus pilih. Pembahasan-pembahasan itu sangat menarik untuk digali dan didiskusikan bersama, antara lain:
a. Pembelajaran di Al Firdaus tidak hanya menitik beratkan pada faktor akademik, tetapi sangat menghargai keterampilan lain. Untuk itu dalam hasil laporan nilai sisiwa tidak pernah ada ranking. Ini karena lewat beberapa penelitian terbukti bahwa nilai akademik tidak selalu menjadi parameter keberhasilan siswa.

b. Pembelajaran di Al Firdaus tidak hanya menghafal tapi lebih banyak membuat produk dan melakukan penelitian Gambar segitiga pembelajaran yang diperkenalkan oleh Bloom (Bloom Toxonomi) pada tahun 1956 menunjukkan bahwa kreativitas merupakan sebuah hasil dari keterampilan berfikir orde tinggi. Dimana kreativitas merupakan keterampilan sintesis dari penggabungan beberapa unsur menjadi wujud baru yang terintegrasi. Jadi ada enam tingkat kemampuan berpikir yaitu:
a. kemampuan mengingat
b. kemampuan mengeja, membaca, dan menghafal
c. kemampuan mengingat dan menghafal terhadap konteks;
d. kemampuan memvisualisasikan
e. kemampuan menganalisis
f. kemampuan memecahkan masalah.

Saat ini, dua per tiga dari siswa di Indonesia baru berada di posisi level satu dan dua. Anak Indonesia yang bisa mencapai level lima dan enam, itu kurang dari satu persen. Proses pendidikan konvensional selama ini beroperasi pada pada tahap pengenalan pengetahuan, sedikit memberikan pemahaman dengan kedalaman yang dangkal. Pendidikan konvensional kurang berhasil dalam mengembangkan kemampuan analisis yang kritis. Lorin Anderson dan David Krthwohl lebih jauh mengajukan perbaikan pada Bloom Taxonomy, mereka melihat tingkat kreativitas merupakan tingkatan yang tertinggi dari Bloom’s Taxonomy.

c. Di Al Firdaus semua anak dianggap memiliki kemampuan dan bakat tertentu. Untuk itu cara pendidikannya pun juga berbeda. Sehingga setiap anak di awal tiap tahap topik bahasan pendidikan harus membuat kurikulum tertentu yang disebut Smart Plan. Ini dilakukan oleh ketiga pilar unsur pendidikan lewat event yang bernama Tri Way Conference (TWC). Rencana pembelajaran yang dilakukan akan beda tiap anak. Target dan cara mencapainya pun sudah ditentukan.

Perbedaan ini harus dilakukan. Tentunya tidak sama melatih burung dengan melatih ikan. Mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda, DNA nya pun beda. Untuk itu cara mendidiknyapun berbeda. Pembelajaran konvensional membuat siswa menuju target yang sama. Dulu visi sebuah lembaga pendidikan adalah bagai sebuah pabrik yang menghasilkan produk orang yang sama IQ serta EQ-nya, dengan sebuah jenis proses pendidikan yang akan menghasilkan produk seragam tanpa beda. Dengan ini manusia dianggap robot yang harus bertingkah laku sama dengan postur tubuh yang sama. Ini tidak manusiawi, karena setiap manusia itu unik, dengan karakter serta pola pengembangannya masing-masing. Alangkah sedihnya bila potensi yang beragam harus dikebiri menjadi sebuah produk seragam dengan segala kelemahannya.

d. Al Firdaus sangat memperhatikan beberapa kemampuan siswa yang dibutuhkan oleh permintaan pasar di era digital 4.0 dan era society 5.0. Banyak peneliti internasional sudah membuktikan bahwa nantinya kemampuan kreativitas sangat dibutuhkan, salah satunya yang dilakukan di sebuah institute di Jepang, tentang kemampuan negara negara maju yang sangat didominasi oleh kreativitas sumber daya manusianya. Seharusnya lembaga pendidikan mulai menggunakan parameter tersebut untuk meningkatkan kemampuan siswa hasil lulusannya. Membentuk daya kreativitas siswa tidaklah mudah, apalagi jika sekolah masih berkutat pada masalah meningkatkan kepandaian IQ dan kemampuan hafalan.
Lima keterampilan utama yang saat ini dibutuhkan adalah kemampuan :
a. Pemecahan Masalah (Complex Problem Solving).
b. Berpikir Kritis (Critical Thinking).
c. Kreativitas (Creativity).
d. Berkoordinasi dengan orang lain (Coordinating with Others).
e. Fleksibilitas Kognitif (Cognitive Flexibility).

Kini pengusaha-pengusaha mengadakan beberapa pelatihan agar mampu mmendongkrak kemam puan ini. Kebutuhan ataskemampuan ini sangat mendesak. Al Firdaus sudah mendidik siswa dengan kemampuan ini. Lulusan Al Firdaus diharapkan mampu menyediakan SDM yang berkualitas dan siap pakai.

e. Kelebihan lain dari Al Firdaus yang sangat menarik adalah Al Firdaus memiliki rencana strategis (Renstra) yang bisa dicapai tiap tahapnya. Lembaga pendidikan yang baik adalah lembaga yang memiliki Renstra yang jelas. Dan Al Firdaus memiliki ini.

f. Al Firdaus juga menjadikan pembinaan karakter dan pendidikan berlandaskan Islam sebagai salah satu sendinya. Diharapkan dengan menanamkan pondasi keislaman dan budi pekerti yang baik, siswa dapat menjadi sebaik-baiknya umat di jaman ini.

g. Masih banyak sebetulnya yang menarik dibahas tentang Al Firdaus, intinya jika masalah pendidikan Al Firdaus adalah jawabannya. Hanya keterbatasan kesempatan yang membuat tulisan ini harus dicukupkan dulu.

Terima kasih Al Firdaus sudah mewarnai pendidikan anak-anak kami sejak mereka berusia dua tahun. Saat ini di kala usia Al Firdaus mencapai dua puluh lima tahun, Al Firdaus semakin matang dan berdaya.