
Oleh: Dr. dr. Nadjibah Yahya, Dipl. CIBTAC, M.Pd.
Wakil Ketua Komite Sekolah Menengah Al Firdaus
“Sebuah bangunan yang menjulang tidak diukur dari tingginya, melainkan dari kedalaman fondasinya. Guru adalah arsitek yang memastikan setiap pondasi jiwa dibangun di atas landasan yang kokoh.”
Dua aksara yang terucap ringan, UP (University Preparation), sesungguhnya merepresentasikan sebuah program di Sekolah Menengah Al Firdaus yang kompleksitasnya bergulir sejak siswa menapaki jenjang sekolah menengah atas atau sejak kelas sembilan. UP dirancang sebagai jembatan holistik guna mempersiapkan siswa menghadapi ranah perkuliahan. Pada tingkat akhir (kelas dua belas), program ini memasuki fase intensif dengan aneka agenda rutin, seperti seminar bersama wali murid angkatan sebelumnya, seminar bersama siswa tahun sebelumnya, dan kemah UP (Character Building Camp) yang bertujuan untuk memberikan suntikan semangat setelah siswa bergulat dengan berbagai soal UTBK. Selain itu, kemah UP juga bertujuan membentuk kemantapan karakter, memohon restu dari guru, orang tua, kaum duafa, dan disertai aksi derma.
Misi Guru yang Mencengangkan
Tim UP yang terdiri dari sejumlah guru dan kepala sekolah mengemban tugas mulia untuk mengantarkan setiap siswa Al Firdaus meraih kursi di perguruan tinggi sesuai dengan aspirasi mereka. Kiprah para guru Al Firdaus sungguh mencengangkan; mulai dari mempersiapkan mentalitas semua siswa tanpa terkecuali, baik siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) maupun siswa reguler hingga membantu siswa memantapkan pilihan jurusan mereka. Para guru juga mengajak segenap orang tua untuk terlibat lebih dalam mendampingi siswa dalam mengejar pendidikan lanjut.
“Tiada jarak yang terlalu jauh, tiada hati yang terlalu tertutup bagi seorang guru yang berjuang dengan cinta.”
Siswa dipersiapkan secara komprehensif, salah satunya dengan memperkenalkan upaya dan perjuangan orang tua di angkatan sebelumnya, serta mengajak para siswa berdiskusi dengan alumni yang telah sukses meraih perguruan tinggi impian. Selain itu, dalam agenda pembentukan karakter (character building), siswa diajak melawat ke beberapa universitas di luar kota untuk melihat langsung kampus yang mereka cita-citakan. Untuk universitas yang berada di Soloraya, siswa diajak mengunjunginya secara periodik pada waktu-waktu tertentu.
Usaha para guru yang tak kalah esensial adalah memastikan adanya ketersediaan biaya bagi seluruh siswa. Bagi siswa yang prasejahtera, mereka dibimbing untuk mengakses Kartu Indonesia Pintar (KIP) guna mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Bagi yang mengalami defisit dana, mereka dibantu mencari beasiswa dari sumber alternatif atau diarahkan ke perguruan tinggi dengan biaya yang lebih terjangkau. Beberapa siswa bahkan dibimbing untuk meraih beasiswa ke mancanegara, jika itu menjadi ambisi mereka. Di Al Firdaus, semua anak diberikan pendampingan dan tidak dilepaskan hingga setiap siswa menemukan pilihan pendidikan lanjutnya.
Kekuatan Jalur Langit dan Ketulusan Guru
Tak jarang, terdapat kasus siswa yang menutup diri dari rangkulan para guru tim UP. Mereka mungkin mengalami frustrasi akibat kegagalan berulang dalam tes masuk perguruan tinggi atau karena permasalahan lain sehingga malu berterus terang kepada guru. Ada pula kasus perbedaan pilihan universitas yang disebabkan oleh komunikasi yang kurang harmonis antara siswa dan orang tua. Kasus-kasus semacam ini memaksa guru tim UP untuk turut campur lebih dalam ke ranah kehidupan siswa, baik melalui pendekatan langsung ke siswa maupun melalui orang tua agar kemelut yang ada dapat dituntaskan. Barulah siswa diarahkan ke perguruan tinggi yang paling tepat.
Kemah pembentukan karakter juga masuk dalam serangkaian agenda UP. Dalam acara ini, siswa diajak ke kawasan pegunungan dan bermukim semalam. Agenda dua hari ini dipenuhi dengan pembinaan karakter siswa yang dikenal dengan istilah menggunakan kekuatan jalur langit (spiritualitas). Sebelum mengikuti kemah, siswa diminta menyelesaikan soal latihan UTBK, melaksanakan ibadah sunah, dan melakukan amal kebaikan sesuai target pribadi. Siswa diwajibkan mengerjakan setengah dari total soal yang tersedia dan telah menyelesaikan sejumlah latihan Try Out (TO) yang ditentukan. Mereka juga diminta mengintensifkan ibadah rutin, misalnya melaksanakan Salat Tahajud, Salat Duha, atau salat sunah lain. Amalan spiritual lain yang dianjurkan adalah berpuasa senin-kamis atau bersedekah. Selain itu, siswa diminta melakukan kebaikan seperti membantu orang tua atau menolong karib yang kesulitan. Setelah target tersebut terpenuhi, barulah siswa diberikan apresiasi berupa kemah ini. Kebiasaan yang telah dilakukan siswa sebelum kemah cenderung akan tertanam lebih dalam dan menjadi pembiasaan permanen. Hal ini diperkuat dengan teladan langsung dari para guru tim UP. Keberhasilan aktivitas ini juga disokong oleh rutinitas pembinaan karakter yang dilaksanakan secara periodik setiap satu tahun sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian tentang kesuksesan akademik siswa yang dipengaruhi oleh usaha lewat jalur langit (Widodo, 2019).
Usaha Tak Mengkhianati Hasil
Seusai seluruh rangkaian persiapan UP ini, orang tua dan siswa benar-benar merasakan adanya transformasi besar pada diri anak-anak mereka. Para arsitek yang telah merencanakan dan membangun program UP ini memiliki kemauan dan ketulusan yang luar biasa. Mereka adalah guru-guru hebat yang mampu menyulap kesibukan persiapan perkuliahan justru menjadi tonggak perubahan sikap dan mentalitas siswanya. Para guru ini bekerja dengan hati dan dengan cinta yang penuh pada murid-muridnya. Mereka bukan saja sebagai pengajar, tetapi manusia berhati malaikat yang memiliki hati baja dalam mendampingi siswa sesulit apa pun; sepertinya tidak ada frasa menyerah dalam kamus hidup mereka. Para guru ini memiliki cinta seluas samudra yang dengan cintanya mampu mendampingi siswa dalam kondisi apa pun. Ini sesuai dengan penelitian yang mengatakan bahwa peran guru punya andil besar dalam penyiapan mental siswa (Santosa, 2020). Salut dengan manusia-manusia agung ini yang bernama guru. Jika bangunan itu nantinya sudah berdiri kokoh dan menjadi tempat berteduh banyak orang, kami yakin para gurulah orang yang paling berbahagia. Semoga kelak, ketika bangunan itu terbentuk, para guru sudi berteduh di bawahnya guna menjadi penjaga iman anak-anak kami.
Berkat seluruh rangkaian kegiatan UP tersebut, diperoleh capaian yang patut dibanggakan: Capaian UTBK di Al Firdaus pada tahun ajaran 2024/2025 mencatat keberhasilan sebesar 74% diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 26% di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dan 4,34% di universitas mancanegara. Capaian literasi dan numerasi berdasarkan asesmen sekolah juga mengalami kenaikan sebesar 12,5% untuk literasi dan 8,33% untuk numerasi. Sungguh sebuah hasil yang membanggakan. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha sebab tetesan peluh adalah janji keberhasilan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menegaskan intervensi bimbingan yang intensif akan mampu membantu siswa di tahap akhir menemukan pilihannya dan mengurangi stres (Hidayat, 2018).
Dedikasi Guru yang Tak Berhenti
Saya menulis ini tepat di Hari Guru 25 November 2025. Hari yang selalu menggugah batin akan jerih payah guru yang tanpa batas. Guru yang hanya meminta balasan berupa kesuksesan murid-muridnya. Guru yang lisannya sibuk menyebut kebaikan muridnya dan akalnya tidak pernah lelah memikirkan murid-muridnya. Entah dengan apa kami harus membalas kebaikan para guru hebat yang telah menjadi arsitek andal bagi iman, sikap, pengetahuan, keterampilan (skill), dan mentalitas anak-anak kami sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
“Setiap jiwa adalah rancangan yang unik, tak ada bangunan yang identik. Arsitek yang ulung tak menyeragamkan bentuk, melainkan memastikan setiap konstruksi berdiri tegak dengan keindahan hakiki.”
Kami mengucapkan jazakallah khairan katsiran atas cinta seluas samudra yang telah para guru alirkan tanpa henti. Melihat anak-anak kami melampaui keraguan dan menggapai cita-cita mereka, kami sadar bahwa sukses ini adalah perwujudan doa dan tetesan air mata yang kadang guru sembunyikan. Tiada balasan yang sepadan di dunia ini selain permohonan kami agar Allah Swt. membalas jasa mulia guru dengan kemuliaan tak terperi. Dengan kerendahan hati yang tak terhingga, kami mengucapkan puji dan syukur atas dedikasi tulus guru sekalian. Kami adalah saksi nyata bahwa para guru bukanlah sekadar pengajar, melainkan arsitek yang telah merancang fondasi iman dan mentalitas anak-anak kami. Jika kelak bangunan cita-cita mereka berdiri kokoh, keyakinan kami tak tergoyahkan: batu pertama yang paling berharga adalah kasih sayang dan ukiran mental.
