
Oleh: Hamid Zakaria Hasani
Siswa MYP Al Firdaus Grade 8
“Badai pasti berlalu, namun badai mengajarkan kita tentang cara berlayar.”
Pagi itu, sebuah konfrontasi tak terhindarkan meletup antara aku dan seorang karibku. Penyebabnya sebenarnya perkara sepele, namun tersulut oleh provokasi yang kian membakar amarah hingga mencapai puncaknya. Adu jotos secara fisik pun tak terelakkan. Ironisnya, alih-alih melerai, rekan-rekan sekelas justru mengipasi bara perselisihan, menjadikan ruang kelas riuh rendah oleh gemuruh. Seorang siswi dari kelas lain mendengar pertikaian ini kemudian melaporkan kepada guru-guru. Beberapa tenaga pengajar datang untuk merelai, namun pergesekan kami tak kunjung padam. Akhirnya, Guru Wali Kelas kami, sosok yang sangat kami sanjung, dipanggil dan beliau menuntaskan masalah ini dengan caranya yang khas yang selalu beliau lakukan.
Beliau melangkahkan kaki, dengan wibawa yang tak terucap, dan menggali akar permasalahan. Secara tak terduga, beliau meminta kami untuk melanjutkan pertikaian fisik di hadapan beliau, sebuah aturan yang telah menjadi kebiasaan di kelas kami. Alih-alih menurut, permintaan ini justru menggugurkan amarah kami. Aku dan karibku lantas menghentikan pertengkaran dan saling memaafkan, karena tidak mungkin bagi kami bertengkar di hadapan beliau. Bapak Guru memberikan nasihat panjang, namun kami berdua, dalam kebandelan remaja,seolah acuh tak acuh. Raut wajah Bapak Guru memancarkan kekecewaan yang dalam, namun beliau mengekang emosinya. Beliau telah faham akan dinamika kelas yang beliau ampu.
Kelas kami memang termasyhur sebagai tempat siswa-siswi paling beringas di antara enam kelas lainnya. Hampir setiap hari diwarnai oleh aneka rupa masalah dan cekcok. Namun, dengan kesabaran yang membukit sekaligus ketegasan yang tak tertawar, Bapak Guru mampu meredam setiap gesekan yang terjadi di antara kami. Tak jarang perseteruan itu merembet hingga ke ranah orang tua, namun Bapak Guru kami berhasil mendamaikan semua pihak dengan kearifan yang patut diteladani. Alhasil, setelah sekitar empat bulan, atmosfer kelas kami berangsur-angsur terkendali. Namun, pagi ini sungguh berbeda. Aku dan karibku kembali bersitegang. Aku menginsafi bahwa Bapak Guru pasti teramat kecewa dengan tindakanku, sebab selama ini aku jarang sekali menimbulkan masalah. Bahkan, aku kerap diikutsertakan beliau dalam menyelesaikan problem teman-teman. Bapak Guru, dalam diamnya, pasti mempertanyakan, mengapa murid-muridnya mulai lagi membuat onar seperti di awal masa kelas dulu. Padahal, pada bulan ini relatif sepi dari pertengkaran. Baru saja beliau merasakan kelegaan, tiba-tiba terdengar lengkingan yang memecah sunyi. Ternyata, ada seorang teman yang diganggu hingga mengalami tantrum. Lagi-lagi, Bapak Guru berupaya mengurai masalah ini. Berbeda dengan kejadian di hari-hari sebelumnya sebelumnya, kali ini murid-muridnya lain tak ada yang membantu; malah sebagian justru memperkeruh situasi. Waktu salat Jumat tiba. Semua siswa diarahkan menuju mushola sekolah. Setelahnya, semua berangsur kembali seperti sedia kala. Mereka saling berkelakar dan saling merangkul. Bapak Guru mengelus dada, merasakan betapa cepatnya kondisi emosi anak-anak ini berubah-ubah. “Aku masih merasakan kegelisahan atas perbuatan mereka, namun mereka telah kembali rukun,” batin Pak Guru. “Maka, aku sering bersedih jika permasalahan di kelas sampai terbawa ke rumah dan didengar orang tua, karena lazimnya anak-anaknya sudah damai, namun para orang tua masih menyimpan dendam.” Doa itu terlantun setelah salat Jumat, “Anak-anakku, semoga kalian senantiasa rukun; hanya itu permohonanku saat ini kepada Allah SWT.”
Murid-murid kembali ke ruang kelas masing-masing, termasuk kelasku. Bapak Guru memasuki ambang pintu. Suasana hening dan terkendali. Bapak Guru mengajak bicara beberapa siswa, menanyakan materi pelajaran yang telah dicapai. Namun, anak-anak tidak menaruh perhatian, cenderung tidak perhatian. Bapak Guru kembali menghela napas dan mengelus dadanya, berbisik dalam hati, “Gerangan apa yang terjadi pada murid-muridku hingga berubah drastis hari ini? Adakah kekeliruan yang kulakukan sehingga Allah SWT menghukumku sedemikian rupa?” Bapak Guru tenggelam dalam lamunan kesedihan. Dor… dor! Suara itu persis dentuman tembakan yang menggema di ruangan. Anak-anak spontan menjadi gaduh. “Ya Allah, ujian apakah lagi ini? Mengapa hari ini anak-anak begitu kacau dan tidak terkendali?” Bapak Guru pucat pasi dan memijit kepalanya. Tiba-tiba, terlihat seorang siswa memegang confetti dan membunyikannya, sementara beberapa lainnya masuk ke kelas sambil membawa aneka ragam bingkisan. Ada yang membawa kue tart dan ada pula yang membawa bermacam-macam hidangan. Bapak Guru bertanya, “Siapa yang berulang tahun? Bukankah hari ini bukan Hari Guru; perayaan itu telah berlalu beberapa hari sebelumnya?” Anak-anak menjawab bersahutan, “Selamat Hari Guru, Pak! Kami menyayangi Bapak!” “Sengaja kami tidak membuat acara tepat di Hari Guru agar kejutan ini sungguh-sungguh tak terduga,” sahut yang lain.
Bapak Guru menerima bingkisan murid-muridnya dengan mata berkaca-kaca. Beliau tidak menyangka hal ini akan terjadi di kelas yang sungguh istimewa ini. Kelas yang selalu mengajarkan beliau makna kesabaran yang hakiki. Beliau termasuk guru yang berhasil mengelola kelas spesial ini tanpa keluhan dan tanpa melibatkan orang tua. Banyak wali murid dan siswa yang puas dengan kiprah yang beliau lakukan guna mendidik generasi mudanya. Bapak Guru mengucapkan terima kasih kepada semua siswanya dan menyalami mereka satu per satu. Aku membawa kado spesial untuk beliau, berupa sepasang sepatu. Aku senantiasa bersedih melihat alas kaki yang dikenakan Pak guru itu. Sepatu usang yang tak pernah berganti, padahal aku memiliki tujuh pasang sepatu yang kupakai bergiliran. Maka, aku giat menabung semenjak beberapa bulan ini di kelas tujuh demi hasrat membelikan guruku sepasang sepatu baru. Saat menerima bingkisan dan membukanya, aku benar-benar menyaksikan air mata mengalir di pipinya. Beliau yang kukenal bijaksana, tegas, dan tegar, akhirnya menangis haru di hadapan murid-muridnya. Inilah puncak keberhasilan kami. Bapak Guru menepuk pundakku dan berujar, “Zakaria… Zakaria… ternyata engkau juga seorang aktor, ya? Engkau membuat Bapak Guru Terkejut tadi pagi dan kini engkau membuat Bapak Guru berbangga.” Kalimat itu menancap dalam di sanubariku.
Kekagumanku melihat cara Bapak Guru menuntaskan semua permasalahan di kelasku akan kujadikan teladan. “Pak Guru, kelas kami memang selalu ada badai, tapi Pak Guru nakhoda yang baik di mata kami, yang mampu menahan badai sehingga kapal kita bisa sampai ke seberang” batinku. Aku berikrar akan mematuhi segenap titah dan nasihatmu. “Bapak Guru, kami bangga padamu.”
