
Esposin, SOLO — Al Firdaus World Class Islamic School menggelar Science Fair bagi siswa kelas I sampai V tingkat Elementary pada Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini mengusung tema Discovering Science Through Daily Activities yang mendorong siswa menemukan konsep sains melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Acara berlangsung pukul 07.30–11.00 WIB di kelas masing-masing dalam format pameran dan praktik langsung. Konsep ini memungkinkan setiap siswa menampilkan hasil eksplorasi, percobaan, dan proyek sains sederhana yang mereka pelajari dalam proses pembelajaran berbasis Primary Years Programme (PYP).
Science Fair ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk melatih rasa ingin tahu, kemampuan observasi, serta keterampilan komunikasi saat menjelaskan proyek mereka kepada guru dan teman-teman.
Guru Elementary–PYP Al Firdaus, Neni Rohaeni, menjelaskan pembelajaran di sekolah itu telah menggunakan kerangka International Baccalaureate (IB) sejak 2019. Dalam satu tahun ajaran, pembelajaran dibagi ke dalam enam tema besar, masing-masing berlangsung dua bulan dengan siklus inquiry yang runtut, mulai dari tuning in, sorting out, hingga finding out.
“Anak-anak belajar dari masalah nyata di sekitar mereka. Tidak hanya menghafal konsep sains, tetapi bagaimana menerapkannya untuk memecahkan masalah. Salah satu karya yang menyita perhatian adalah jemuran otomatis. Ide itu muncul dari seorang siswa yang sering khawatir jemurannya kehujanan saat ditinggal. Dengan pendampingan guru, ia merancang konsep jemuran yang dapat bergerak masuk otomatis ketika hujan turun,” ujar Neni.
Menurut dia, seluruh ide murni lahir dari pemikiran siswa. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang memantik pertanyaan agar daya kritis anak berkembang. Kalau satu anak punya ide, yang lain langsung ikut berimajinasi sehingga diskusinya sangat hidup.
“Proses berpikir anak-anak dimulai dari pertanyaan sederhana, seperti kenapa orang menciptakan mesin cuci, atau bagaimana troli belanja bisa lebih mudah digunakan. Dari situ mereka menyusun problem statement dan mencari solusi,” jelas Neni.
Science Fair Al-Firdaus Solo ini dikemas sebagai learning celebration. Orang tua diundang untuk menyaksikan proses belajar anak-anak. Bahkan, siswa taman kanak-kanak turut hadir sebagai tamu.
“Yang kami rayakan bukan hanya produknya, tetapi proses berpikir anak-anak. Mereka belajar memahami masalah, berpikir kritis, dan menyampaikan ide di depan orang lain,” tambah Neni.
Sejak mengadopsi kerangka IB, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) telah menjadi budaya di sekolah. Penerapan Kurikulum Merdeka dan program P5 dinilai selaras dengan praktik yang sudah lama berjalan di Al Firdaus.
“Kami ingin mereka peka terhadap masalah sekitar, mampu berpikir kritis, dan menemukan solusi. Ini bekal untuk 10–20 tahun ke depan,” tutur Neni.
Beragam proyek yang dipamerkan mulai dari lemari otomatis, troli pintar, hingga jemuran cerdas, lahir dari observasi siswa terhadap aktivitas sehari-hari di rumah. Momen Science Fair ini menegaskan bahwa sains tidak selalu abstrak dan jauh dari kehidupan anak-anak. Sains hadir di dapur, lemari, jemuran, bahkan di troli belanja.
“Dengan pendekatan ini, anak-anak belajar bahwa sains ada di mana-mana, bukan hanya di laboratorium. Mereka belajar berpikir kritis sekaligus peduli pada lingkungan sekitar,” tutup Neni.
