Menjadi Guru Idola

Oleh: Imam Subkhan

Guru Content Creator & Humas Sekolah Al Firdaus

 

Menurut saya, di tengah dinamika pendidikan hari ini, kita seolah mulai kehilangan figur guru yang benar-benar digugu dan ditiru—guru yang bukan hanya hadir untuk mengajar, tetapi juga menjadi teladan yang memancarkan ketulusan, kasih sayang, dan empati kepada murid-muridnya. Kita kehilangan sosok guru yang mampu menyentuh hati, bukan sekadar memintarkan pikiran dengan pengetahuan.

 

Di saat isu kualitas guru sedang menjadi sorotan nasional, terutama setelah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menunjukkan rendahnya kemampuan Matematika siswa, banyak pihak mencermati bahwa persoalannya bukan semata-mata karena murid yang kurang mampu, tetapi karena proses pengajaran yang belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan anak-anak kita. Menteri Pendidikan pun menegaskan bahwa kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kehadiran guru—bukan sekadar hadir sebagai penyampai materi, tetapi hadir untuk menggerakkan siswa dengan bakat dan potensinya.

 

Di luar tantangan itu, realitas sosial juga memperlihatkan bagaimana sebagian guru tergoda oleh gaya hidup hedonis, lebih mengejar materi dan kenyamanan, terutama yang berstatus ASN dengan pendapatan sertifikasinya. Sementara itu, masih banyak guru lain yang hidup sederhana, mengajar di pinggiran, bekerja dengan gaji minim, namun tetap menjaga idealismenya sebagai pendidik. Hal yang kontras ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan profesi guru tidak terletak pada status atau nominal penghasilan, tetapi pada ketulusan dalam menjalankan amanah mendidik generasi bangsa.

 

Kriteria Guru Idola Murid

Berbicara tentang “guru yang diidolakan murid”, saya meyakini bahwa sosok tersebut bukanlah guru yang paling ahli dalam menguasai materi, bukan yang paling piawai berceramah, bukan yang paling canggih menggunakan multimedia, dan bukan pula yang suka menyisipkan istilah-istilah asing agar terkesan berwibawa. Guru idola murid justru lebih dekat pada ranah kompetensi kepribadian daripada kompetensi profesional. Mereka adalah sosok yang sabar, humoris, dan mampu menciptakan suasana belajar yang santai namun tetap efektif. Mereka hadir dengan perhatian dan empati, membuka ruang komunikasi yang hangat, mau menerima masukan, dan tidak sungkan menjadi tempat curhat bagi siswa yang sedang mengalami kesulitan. Kehadiran mereka memberi rasa aman dan diterima. Mereka ramah, santun, dan memiliki kecerdasan emosional yang membuat siswa merasa dimengerti. Bahkan hal-hal sederhana seperti penampilan yang rapi, wangi, dan menyenangkan sering kali menjadi nilai tambah yang membuat murid merasa nyaman di dekat mereka. Dari figur-figur seperti inilah lahir hubungan emosional yang kuat, sehingga murid selalu menantikan kehadiran guru tersebut di kelas—bukan justru bersorak gembira saat mengetahui guru berhalangan hadir.

 

Pahami Karakteristik Siswa

Guru yang diidolakan murid adalah guru yang mengenal muridnya secara lebih mendalam. Mereka memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik, gaya belajar, potensi, bakat, minat, hingga keterbatasan yang berbeda-beda. Seorang guru hebat tahu bahwa sebelum mengajar, ia harus mampu mengkondisikan anak agar siap belajar. Mengokohkan kesiapan mental, membangun suasana yang aman, menyenangkan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target materi pembelajaran. Sebab pendidikan bukan hanya proses mentransfer ilmu, tetapi juga proses mengasah hati dan membentuk pribadi.

 

Di Hari Guru Nasional 2025 ini, saya ingin mengajak kita semua untuk kembali merenungkan makna kehadiran seorang guru. Bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Semoga kita tidak kehilangan guru-guru sejati—guru yang mengajar dengan hati, guru yang menjadi cahaya bagi murid-muridnya, guru yang kehadirannya dirindukan dan keteladanannya dikenang sepanjang hayat. Karena di tangan guru seperti inilah masa depan bangsa dibentuk, bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan cinta dan ketulusan.