
Oleh: Sixta Madubala, S.Pd., M.Pd.
Head of School Al Firdaus
Mengajar dengan Hati, Berinovasi dengan Teknologi
Dunia pendidikan terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Saat ini, para pendidik menghadapi dua kelompok generasi yang unik yakni generasi z (lahir sekitar 1997–2012) dan generasi alfa (lahir 2013 ke atas). Keduanya tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, terutama karena kemajuan teknologi digital, media sosial, dan informasi yang serba cepat. Oleh karena itu, guru masa kini dituntut mampu beradaptasi, berinovasi, dan memahami karakter siswa agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Karakteristik generasi z dan generasi alfa diantaranya:
- Digital native sejati. Gadget, internet, dan media sosial bukan lagi hal baru bagi mereka. Mereka belajar visual, cepat, dan interaktif.
- Suka kebebasan dan ekspresi diri. Mereka ingin didengar, diberikan ruang berpendapat, dan terlibat aktif dalam proses belajar.
- Cepat bosan, suka tantangan. Pembelajaran monoton tidak lagi relevan. Mereka lebih menyukai proyek, kompetisi, dan game learning.
- Berpikir kritis dan kreatif. Mereka tidak hanya ingin tahu apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana.
- Sensitif pada nilai sosial dan emosional. Mereka peduli pada kebermaknaan hidup, empati, dan kesehatan mental.
Peran guru untuk menghadapi generasi ini yakni menjadi guru di era gen z dan gen alfa bukan sekadar mengajar, tetapi juga menjadi fasilitator, bukan satu-satunya sumber ilmu, menjadi motivator yang menumbuhkan semangat belajar, menjadi mentor yang membantu menemukan potensi, sebagai role model dalam karakter, etika, dan sikap. Nah, kompetensi yang harus dimiliki guru modern akan menjawab tantangan guru gen z dan gen alfa. Diantaranya, guru perlu menguasai teknologi pendidikan. Contohnya, pembelajaran interaktif, platform digital, video kreatif, dan AI edukatif. Menggunakan pendekatan student-centered learning, project based learning, problem solving, diskusi kreatif, praktik langsung, komunikatif dan empatik, anak zaman sekarang ingin dipahami, bukan dihakimi. Guru harus dapat menciptakan suasana belajar menyenangkan, belajar adalah pengalaman, bukan hafalan. Serta adanya kolaboratif dan keterbukaan serta jangan lupa selalu siap belajar hal baru setiap saat.
Guru sebagai Inspirasi Masa Depan
Guru bagi gen z dan gen alfa bukan hanya penyampai materi, tetapi juga penuntun moral di tengah gempuran media sosial, pembentuk karakter di era disrupsi dan penerang jalan menuju masa depan yang penuh kemungkinan. Dalam tangan guru yang hebat, teknologi bukan ancaman, tetapi sebagai senjata pembelajaran. Anak-anak menjadi pembelajar aktif, kreatif, dan berakhlak. Di sisi lain, sekolah menjadi ruang yang memberi harapan, bukan sekadar tuntutan nilai.
Mengajar generasi z dan generasi alfa berarti bersiap menjemput masa depan. Dengan hati yang tulus, pikiran yang terbuka, dan kemampuan yang terus berkembang, guru akan selalu menjadi sosok yang paling dirindukan dan dihormati karena masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas guru hari ini. Di tengah derasnya arus teknologi, informasi, dan budaya global, ‘Apa yang harus dilakukan guru gen z dan gen alfa agar siswa tetap memiliki akhlakul karimah?.’ Menjaga akhlakul karimah pada generasi z dan generasi alfa merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi para guru. Meskipun mereka sangat modern dan digital, nilai moral, adab, dan karakter mulia tetap harus menjadi fondasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul dan berakhlak.
Guru adalah sosok yang ‘digugu dan ditiru,’ menjadi teladan dalam berperilaku. Siswa zaman sekarang tidak hanya mendengarkan apa yang guru katakan, tetapi lebih memperhatikan apa yang guru lakukan. Oleh sebab itu, guru harus mampu menunjukkan adab berbicara yang baik, menjadi teladan kesopanan, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab serta mampu mengamalkan nilai agama dalam tindakan sehari-hari karena keteladanan lebih kuat daripada seribu nasihat.
Guru sebaiknya dapat mengintegrasikan nilai moral dalam pembelajaran. Akhlak tidak hanya diajarkan melalui pelajaran agama, tetapi bisa disisipkan dalam semua mata pelajaran. Contohnya, melalui diskusi tentang sikap jujur, menghargai, dan menghormati. Menyisipkan hikmah dalam cerita, film edukatif, dan studi kasus dapat pula mengaitkan ilmu dengan nilai agama dan kemanusiaan.
Penting bagi guru dapat mengoptimalkan pendidikan karakter berbasis keteladanan sosial. Guru dapat mengembangkan kegiatan yang melatih moral seperti; program berbagi dan bakti sosial, pelayanan masyarakat (service learning),kegiatan kolaboratif dan gotong royong di sekolah. Ada saatnya guru membangun komunikasi empatik dan humanis. Generasi z dan alfa sangat sensitif secara emosional, guru dapat mendengarkan kata hati siswanya tanpa menghakimi, menggunakan bahasa yang lembut dan menghargai pendapat siswa dan menjadi tempat curhat dan pembimbing moral.
Guru menghadirkan teknologi tidak saja sebagai media pembelajaran. Namun, perlu mengajarkan bahwa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Teknologi bukan untuk dihindari, tetapi diarahkan untuk membuat konten positif, video nilai karakter, dan pembelajaran inspiratif, membiasakan etika digital, sopan berkomentar, bijak menyebarkan informasi serta mengajak siswa membuat kampanye online tentang akhlak dan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran spiritual dapat dilakukan guru untuk memastikan pembiasaan ibadah berjalan dengan baik, seperti salat berjamaah, doa bersama, literasi Al-Qur’an, mengaitkan setiap perintah agama dengan manfaat kehidupan serta menumbuhkan rasa syukur dan keimanan, bukan sekadar memerintah.
Kemitraan dengan orang tua dapat dilakukan dengan menguatkan kerjasama sekolah dan orang tua. Akhlak akan kokoh jika sekolah dan keluarga bekerja bersama; komunikasi rutin dengan orang tua, program parenting tentang pembinaan karakter, konsistensi aturan di rumah dan sekolah. Guru diharapkan mampu menghargai identitas dan potensi siswa. Anak yang dihargai akan mudah diarahkan. Oleh karena itu, berikan pujian untuk sikap baik, bukan hanya nilai akademik tumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab, hindari mempermalukan siswa di depan umum.
Guru gen z dan gen alfa harus mampu menggabungkan kecanggihan teknologi dengan kehangatan akhlak. Pembelajaran yang berpusat pada cinta, keteladanan, komunikasi yang baik, dan pembiasaan moral akan mencetak generasi modern yang tetap beradab. Hal ini karena pendidikan sejati bukan hanya tentang membentuk kepintaran otak, tetapi memuliakan karakter. Generasi masa depan harus cerdas digital. Namun, tetap mulia akhlaknya. Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat berikut ini:
Q.S. At-Tīn (Surah 95) ayat 4-5
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam ‘bentuk sebaik-baiknya.’ Artinya, potensi manusia (termasuk anak) dilengkapi oleh Allah Swt. dengan bentuk terbaik. Dari sini bisa diambil bahwa penting untuk menghargai dan mengembangkan potensi anak, baik kecerdasan maupun akhlaknya.
Q.S. An-Nahl (Surah 16) ayat 12
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”
Ayat ini mendorong manusia supaya menggunakan akalnya “kaum yang berakal” untuk merenung dan belajar. Maka, guru dan orang tua dapat mengambil hikmah bahwa membekali anak dengan kecerdasan, termasuk berpikir kritis dan reflektif, adalah bagian dari amanah iman.
Q.S. Luqmān (Surah 31) ayat 13-19 (khususnya nasihat Luqman kepada anaknya)
Ayat 13: “(Dan ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
Ayat 17: “…Maka hendaklah kamu memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” Ayat-ayat ini secara langsung berbicara tentang pendidikan karakter dan akhlak: keimanan, ketaatan, melarang kemungkaran, sabar. Ini sangat relevan untuk guru dan orang tua agar anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia.
Al Firdaus hadir 28 tahun ini untuk menjadi mitra orang tua, agar bersama-sama mewujudkan mimpi dan cita-cita siswa sebagai pembelajar sejati dengan menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna serta mendalam sebagai bekal siswa dalam menjadi agent of change untuk menciptakan perubahan dunia yang semakin baik dan damai.
