
Oleh: Muslimin, S. Pd.
Guru MYP Al Firdaus
Menjadi guru bukan sekadar profesi bagiku, ini adalah panggilan hidup. Setiap pagi ketika melangkah memasuki lingkungan SMP-SMA Al Firdaus (MYP-HS Al Firdaus), aku selalu diingatkan bahwa aku berada di tempat yang penuh keberkahan. Di sini, setiap langkah adalah pengabdian, dan setiap kata adalah doa. Menjadi guru di MYP-HS Al Firdaus bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang melayani, memahami, dan mendampingi perjalanan setiap jiwa yang hadir di hadapan kami. Di sekolah ini, aku belajar bahwa setiap anak adalah amanah yang unik, datang dengan kemampuan, tantangan, dan harapan yang berbeda. Tidak ada satu pun yang boleh ditinggalkan.
Perjalananku di lingkungan Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus (YLPAF) telah mengajarkanku arti sebenarnya dari menjadi seorang pendidik, bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter, menumbuhkan nilai-nilai keislaman, dan membuka jendela dunia bagi generasi masa depan. Aku belajar bahwa hati adalah ruang kelas terbaik, dan keteladanan adalah kurikulum utama.
Aku masih ingat bagaimana aku menyaksikan para siswa tumbuh dari pribadi yang penuh rasa ragu, menjadi pemuda-pemudi yang siap menghadapi tantangan dunia. Betapa bahagianya melihat mereka berani bermimpi, berani mencoba, dan berani gagal, lalu bangkit kembali dengan keyakinan bahwa Allah selalu menuntun langkah mereka. Saat itulah aku merasakan, perjuanganku tidak pernah sia-sia. Di MYP-HS Al Firdaus, aku tidak hanya mengajar, aku juga belajar. Belajar bersabar, belajar memahami, dan belajar mencintai setiap proses perkembangan siswa meski jalannya tidak selalu mulus. Aku belajar bahwa setiap anak memiliki caranya sendiri untuk bersinar, dan tugasku adalah memastikan tidak ada satupun cahaya yang redup sebelum sempat menerangi dunia.
Aku masih ingat juga, ada seorang siswa yang sudah satu tahun bersekolah di Al Firdaus. Ia menunjukkan beberapa gejala tertentu yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Sebagai bagian dari sekolah inklusi yang bertanggung jawab, kami mengupayakan asesmen lanjutan di lembaga PUSPA Al Firdaus, untuk memastikan kebutuhan pendidikannya terpenuhi secara optimal. Rekomendasi akhirnya mengarahkan pada jalur home schooling, sebuah langkah yang diyakini sebagai yang terbaik bagi perkembangan dirinya. Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Orang tua mempertanyakan,“Di mana tanggung jawab Al Firdaus?”. Pertanyaan itu menampar batinku, seolah usaha kami dipandang tidak cukup. Aku menjelaskan dengan data, observasi, dan dasar ilmiah bahwa tujuan kami bukan sekadar mempertahankan siswa di sekolah ini, tetapi memastikan ia berada di lingkungan belajar yang paling sesuai. Bukan karena Al Firdaus tidak mampu menangani kondisinya, namun karena tanggung jawab terbesar kami adalah menempatkan anak pada jalan terbaik untuk tumbuh. Dan benar, perkembangannya membuktikan bahwa keputusannya tepat. Saat itulah aku semakin yakin: Cinta seorang pendidik terkadang berarti mengikhlaskan.
Saat aku mendapatkan amanah sebagai Kepala Sekolah SMA Al Firdaus ( 2018-2023), aku semakin menyaksikan tantangan lain yang tak kalah penting. Banyak siswa inklusi kami berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah, namun setelah lulus, kesempatan untuk studi lanjut sering kali tidak seimbang dengan potensi mereka. Apakah perjuangan berhenti sampai kelulusan? Tidak. Bagi kami, pengabdian harus dilanjutkan Aku bersama tim Guru Pembimbing Khusus (GPK) berusaha membuka jalan baru, berpihak pada masa depan mereka. Kami menjalin komunikasi dengan berbagai perguruan tinggi yang bersedia menerima lulusan inklusi sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka. Setiap pintu yang terbuka menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya slogan, tetapi perjuangan nyata dalam menciptakan ruang keberlanjutan. Melihat satu per satu siswa spesial kami langkahkan kaki ke jenjang perkuliahan, membuat hatiku bergetar: Beginilah seharusnya pendidikan, memberi kesempatan untuk terus tumbuh dan bermakna. Aku bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus (YLPAF), tempat di mana setiap langkah pengabdian dilandasi cinta, ilmu, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Hari Guru mengingatkanku bahwa profesi ini mungkin tak selalu dipenuhi pujian, namun selalu penuh makna. Penghargaan terbaik bukanlah sertifikat atau tepuk tangan, melainkan keberhasilan para siswa saat suatu hari mereka kembali berkata, “Terima kasih, karena Ibu/Bapak pernah percaya pada saya.” Hari Guru Nasional mengingatkanku bahwa profesi ini adalah ibadah panjang. Ada ujian, ada air mata, ada rasa lelah. Namun di balik setiap tantangan, ada hikmah yang membuatku terus melangkah, bahwa guru adalah pelita yang tidak boleh padam, apa pun keadaan sekitarnya. Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh guru yang terus berjuang menjaga setiap cahaya dalam diri anak-anak bangsa: Kita bukan hanya mengajar, kita membangun masa depan
