Mencoba Melirik Well-being Guru

Oleh: Dr. Siti Rohimah, M. Si.

Konselor Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus

 

Ketika jasa guru dielu-elukan karena masyarakat mengingat begitu besar perjuangan guru mempersiapkan generasi yang unggul untuk membangun bangsa ini. Ketika peran guru diungkap untuk menunjukkan betapa mulia dan banyaknya peran yang disandang oleh Sang Guru. Ketika banyak pihak mempertanyakan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, berharap profilnya menjadi seorang yang hebat sebagai guru dan ada “ketika-ketika” yang lain ditampilkan sebagai sebuah profesi dengan multi-tasking sebagai pengajar, pendidik, pembimbing, penilai, pengembang, dan motivator. Wow, sempurna sekali. Meskipun tidak kita pungkiri bersama bahwa bisa jadi profesi guru diambil karena terpanggilnya jiwa untuk mendidik, karena “keniscayaan” sebagai konsekuensi diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan karena keterpaksaan yang disebabkan karena instruksi orang tua yang memiliki ekspektasi ego yang sangat personal karena harapan yang tinggi mendapat intensif yang menggiurkan dan lain sebagainya.


Kita perlu berpaling sebentar tentang pernak-pernik yang terjadi dari sisi lain di kehidupan seorang guru sebagai manusia yang memiliki fitrah manusiawi. Guru bukan robot yang cukup diberikan minyak oli dan reparasi sesaat untuk memperbaiki organnya yang tidak berfungsi. Barangkali patut dan perlu kita lihat sejauh mana Teacher Burnout dari guru. Tingkat kesejahteraan dan keseimbangan kerja serta kesehatan mental guru menjadi salah satu faktor yang memengaruhi naik turunnya kualitas kinerja guru selain tentang faktor gaji dan tunjangan, beban kerja dan tugas administrasi yang menumpuk, serta perlindungan hukum dan etika profesi. Banyaknya kasus turn-off guru, berhentinya progres pengembangan proses-proses dalam pembelajaran, dan putus asanya seorang guru dalam menghadapi permasalahan siswa-siswanya merupakan salah satu yang terlahir karena tidak terpenuhinya faktor-faktor tersebut.

 

Teacher Burnout adalah masalah psikologis yang dialami oleh seorang guru sebagai respon terhadap stres yang berkepanjangan dan tuntutan yang tinggi dari pekerjaan yang diembannya. Pentingnya dukungan psikologis bagi guru, manajemen stres, dan menjaga work-life balance menjadi sebuah keniscayaan yang harus dipikirkan, baik oleh guru sendiri maupun oleh pemilik otoritas di sekolah. Dampak Teacher Burnout mungkin terlihat tidak tampak seketika namun berimbas berkepanjangan pada hal yang prinsip baik untuk kehidupan guru, bagi siswa, bagi lembaga, bahkan bagi bangsa yang berkewajiban melahirkan generasi yang unggul. Dampak yang dirasakan bagi guru antara lain: kesehatan fisik yang menurun, seperti merasa sering lelah, baik fisik maupun emosional sehingga lebih sering ingin marah, rentan sakit dan terkadang mengalami gangguan tidur. Bisa jadi Teacher Burnout diwujudkan dengan menurunnya kesehatan mental seperti sering timbul rasa sinis atau bersikap negatif pada pekerjaan di sekolah, pada siswa, teman kerja, bahkan pada kebijakan sekolah. Terkadang ada perasaan tidak berdaya karena beban yang sebetulnya berat atau merasa terjebak pada kondisi dalam sebuah profesi yang sudah dipilihnya sendiri. Hal ini akan dapat melahirkan perilaku kerja negatif juga seperti sering terlambat masuk kerja, tidak optimal dalam mengerjkan tugas-tugas guru, bahkan terkadang timbul keinginan untuk meninggalkan profesi sebagai guru. Timbulnya motivasi dan atau kepuasan kerja yang menurun bahkan hilang akan mampu meningkatkan kecemasan bahkan depresi pada guru. Meskipun terkadang hal itu tidak terlalu terlihat di permukaan karena guru dituntut harus selau survive di depan siapapun terutama siswa.

 

Selain dampak bagi diri sendiri, dampak yang berimbas kepada siswa antara lain:

  1. Penurunan kualitas pembelajaran karena kurangnya kreativitas guru yang disebabkan oleh beban kerja yang belum ada solusi yang clear sehingga guru terkesan monoton dalam mengajar.
  2. Perlakuan depersonalisasi terhadap siswa yang pasti berdampak negatif seperti kurang sabar, acuh tak acuh bahkan dingin, dan sangat memungkinkan membuat siswa menurun dalam berprestasi karena kehilangan minat belajar. Belum lagi bila depersonalisasi ini membuat guru dihadapkan kepada hukum perlindungan anak karena guru bersikap atau berperilaku tidak baik terhadap siswa.

Hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan well-being dan mengatasi permasalahan guru yang sangat mendasar ini adalah:

1) Sekolah menyediakan program layanan konseling secara professional bagi guru untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan pribadi

2) Melakukan pelatihan bertahap atau berkelanjutan tentang manajemen stres, tentang bagaimana dapat melakukan mindfulness dengan baik sehingga guru mampu menjaga work-life balance

3) Memberikan pelatihan dan atau memberikan kesempatan untuk jenjang pendidikan lanjut dalam rangka meningkatkan kompetensi guru sehingga mereka lebih berkompeten dan percaya diri

4) Pimpinan sekolah menerapkan gaya kepemimpinan dengan pendekatan keadilan interpersonal, informasional, dan memenuhi kontrak psikologis bagi guru.

      • Keadilan interpersonal berupa: perlakuan yang penuh rasa hormat, yaitu memperlakukan guru dengan sopan, hormat, tanpa menggunakan bahasa yang merendahkan, menghina, atau tidak pantas.
      • Keadilan informasional yaitu kecukupan informasi yang diberikan secara masuk akal, jujur, tepat waktu, dan komprehensif oleh pimpinan kepada guru mengenai semua informasi yang dibutuhkan dan keputusan-keputusan pimpinan yang memengaruhi kinerja guru.
      • Pemenuhan kontrak psikologis berbentuk macam-macam interaksi, komunikasi lisan, dan janji-janji yang diberikan selama proses rekrutmen, dan interaksi kerja sehari-hari.

5) Guru patut diperjuangkan untuk mendapatkan .perlindungan hukum dan etika profesi, yaitu berkaitan tuntutan-tuntutan pihak lain yang berkaitan dengan masalah atau kendala yang terjadi dalam proses guru melakukan edukasi dan, pendampingan, dan pemeliharaan siswa agar menjadi siswa yang kuat secara spiritual, kognitif, dan mental. Semoga guru-guru di Indonesia emndapatkan hak nya dengan baik.