
Esposin, SOLO – Sebanyak 59 siswa kelas VI SD Al-Firdaus Solo menampilkan hasil proyek riset dan aksi dalam Staging PYP Exhibition 2026 di Cerita Rasa Hall (MYP Campus Al Firdaus), Jl. Al Kautsar, Mendungan, Pabelan, Sukoharjo, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini menjadi puncak pembelajaran jenjang primary years programme (PYP) yang menekankan integrasi pengetahuan dan keterampilan.
EL Curriculum & PYP Coordinator SD Al-Firdaus Solo, Aris Ariyanti, mengatakan PYP Exhibition merupakan proyek wajib di akhir jenjang pendidikan dasar dalam program PYP. Melalui proyek ini, siswa menunjukkan akumulasi pemahaman dan keterampilan yang dipelajari sejak kelas awal.
“PYP Exhibition adalah puncak pembelajaran tingkat dasar dan bersifat wajib. Siswa menunjukkan pemahaman pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dari kelas I sampai kelas VI,” kata Aris di sela kegiatan.
Menurut dia, pembelajaran PYP mengintegrasikan berbagai keterampilan, meliputi kemampuan berpikir, riset, komunikasi, sosial, dan manajemen diri. Seluruh keterampilan tersebut diterapkan “Anak-anak mengidentifikasi isu, mencari sumber, mewawancarai narasumber, membuat survei atau eksperimen, sampai melakukan action. Prosesnya sekitar empat bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tahun ini terdapat 19 proyek yang dikerjakan secara individu maupun kelompok. Sebelum staging puncak, siswa telah mempresentasikan hasil riset kepada mentor, pimpinan sekolah, serta forum sekolah international baccalaureate (IB0 secara daring).
“Harapannya setelah berilmu, siswa juga beramal lewat action. Mereka bisa berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan, minimal di sekitarnya,” katanya.
Salah satu siswa kelas VI, Bima Rizky Wibawa, mengatakan pameran tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk memaparkan hasil riset secara langsung kepada pengunjung, termasuk orang tua dan tamu dari sekolah lain. Menurut Bima, pameran tidak diformat sebagai kompetisi, melainkan forum berbagi hasil pembelajaran.
Ia dan timnya mengangkat topik minimnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Menurutnya, ruang terbuka hijau berperan dalam menekan polusi udara.
“Ruang terbuka hijau bisa menyerap polusi. Kalau di undang-undang harusnya 30 persen, tapi ruang terbuka hijau publik saat ini baru sekitar 10 persen, jadi masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Kelompoknya juga melakukan aksi edukasi langsung ke masyarakat dengan membagikan brosur dan tanaman. “Ada yang menolak diberi brosur atau tanaman. Mungkin karena merasa repot atau belum tertarik,” ujarnya.
Siswa kelas VI lainnya, Airin Habsari Proboningtyas, mempresentasikan riset tentang pencemaran air laut dan dampaknya terhadap ekosistem. Ia menyebut kendala utama penelitian adalah keterbatasan lokasi karena jauh dari wilayah pesisir.
“Kendalanya karena Solo jauh dari laut, jadi kami mengaitkan pencemaran dari sungai yang bermuara ke laut,” kata Airin.
Sebagai tindak lanjut riset, timnya menggelar aksi penggalangan dana melalui penjualan di sekolah dan mendonasikannya untuk penanaman mangrove di Surabaya.
