Guruku, Mentor Esport yang Membawa Perubahan

Oleh: Ahmad Yahya Husaini

Siswa Sekolah Menengah Al Firdaus

Guru membuka cakrawala, murid melaju melampaui batas.”

“Tim B melakukan counter set up terhadap Tim A. Permainan yang bagus untuk tim B,” komentarku. Aku, yang mengemban amanah sebagai caster (komentator) dalam kompetisi olahraga elektronik (esport) yang kami selenggarakan di MYP Al Firdaus, terus bersemangat melontarkan ulasan. Perhelatan ini adalah agenda yang telah lama kami idam-idamkan. Setelah beberapa bulan aku dan teman-temanku mengajukan proposal kepada organisasi OSIS untuk mengadakan kejuaraan esport antarsekolah, akhirnya cita-cita itu terealisasi. Prakarsa ini bermula dari dimasukkannya esport sebagai salah satu cabang Pengembangan Bakat (PB) di MYP Al Firdaus, yang sebelumnya belum pernah diadakan. Aturannya, MYP Al Firdaus akan mengadakan jenis PB apa pun, asalkan terdapat sejumlah siswa yang mengusulkan pilihannya pada cabang tersebut.

 

Di balik keberhasilan memasukkan PB esport ke cabang PB dan diadakannya lomba ini, tersimpan andil besar seorang guru sederhana yang bagi, kami beliau menjelma sebagai kompas penuntun para penggandrung esport. Beliau adalah guru muda yang baru bergabung di Al Firdaus sekitar dua tahun lalu. Beliau mulai mengajar kala aku berada di kelas delapan. Beliau memiliki atensi yang sama denganku dan teman-temanku. Beliau ternyata seorang pemain andal yang kerap bermain bersama kami di malam hari selepas segala aktivitas kami usai dan beliau sering menang dalam pertandingan tersebut. Restu orang tua kami terhadap hobi ini kian kokoh karena kehadiran beliau. Orang tua merasa bahwa kehadiran beliau dalam tim kami sebagai penjaga kami. Sejatinya, orang tua kami telah mendukung hobi ini sejak semula lantaran mereka menyadari adanya manfaat yang terkandung di dalam hobi ini, meskipun disertai syarat ketat. Syarat itu adalah tidak meninggalkan kewajiban ibadah dan waktu belajar serta menjaga prestasiku di sekolah maupun di luar sekolah tetap cemerlang dan tidak mengalami penurunan. Selain itu, aku diminta orang tuaku untuk tetap menjaga karakter yang baik walau berkumpul dengan banyak orang dengan bermacam-macam karakternya di dunia maya yang belum aku kenal. 

 

Kami berkeyakinan bahwa bermain esport memberikan beragam faedah, seperti mengembangkan ketangkasan kognitif, berpikir strategis, memecahkan masalah, dan memantik keterampilan multi-tugas (multitasking). Selain itu, bermain game juga dapat meningkatkan fokus, melatih kerjasama, menciptakan koneksi baru, dan meningkatkan kepercayaan diri.

 

Guru kami ini memiliki sifat yang santun dan penyabar, beliau sangat dicintai oleh semua murid. Tutur bahasa beliau yang lembut dan telinga beliau yang senantiasa sabar mendengarkan setiap perkataan siswa menyebabkan tidak ada seorang pun siswa yang enggan bicara dan bercerita serta mengadu kepada beliau. Beliau selalu menjadi pendengar yang empati. Beliau pun kerap menasihati kami dengan bahasa yang sopan dan tidak menggurui sehingga segala saran beliau mudah kami serap dengan lapang dada. Beliau mengajarkan kebaikan dengan teladan tanpa perlu banyak bicara dan banyak memerintah: idola yang digandrungi generasi z.

 

Guru inilah yang mendampingi kami mewujudkan PB esport dan melatih kami belajar game sekali dalam seminggu. Pada awal penyelenggaraan PB tersebut, kami telah berhasil meraih prestasi juara dalam kompetisi esport dengan sekolah lain. Keberhasilan ini berkat bimbingan beliau yang mendorong kami menjadi percaya diri dan berani mengambil risiko walau semula belum percaya diri untuk terjun ke perhelatan umum.

 

Keberhasilan kami menyelenggarakan lomba esport ini tak terlepas dukungan guru-guru lain. Seorang guru yang menjabat sebagai ketua panitia juga memiliki jasa besar dalam acara kompetisi esport ini. Agenda ini sesungguhnya merupakan rangkaian acara untuk memperingati Bulan Bahasa sehingga di antara aneka perlombaan lain, kompetisi esport yang disiarkan secara online ini juga diadakan. Aku dan guru pembimbing PB esport itulah yang bertindak sebagai komentator lomba tersebut. Bapak Guru yang menjadi ketua panitia inilah yang merestui dan mendukung pelaksanaan acara sepenuhnya. Acara semacam ini tergolong masih langka diadakan di lingkungan sekolah sebab banyak orang tua atau guru yang masih berpandangan bahwa esport lebih banyak mendatangkan kemudaratan bagi remaja daripada kebaikan.

 

Inilah kebahagiaan bersekolah di Al Firdaus. Kami dikelilingi banyak guru yang selalu belajar, berinovasi di kelas, berpikiran maju dan senantiasa bersikap terbuka terhadap perubahan. Gaya pembelajaran di sekolah ini pun asyik dan banyak pembaharuan yang belum semua sekolah memilikinya. Gaya belajar kami adalah belajar konsep dari materi sekolah tidak hanya menghafal. Bahkan, kami diajarkan sejak SD membuat proyek dari apa yang kami pelajari dan yang berguna untuk semesta. Metode pembelajaran ini bisa berhasil dengan baik, karena kami memiliki guru-guru yang mau terus belajar dan meningkatkan pengetahuan. Gaya belajar seperti ini adalah surga bagi kami. Menjelang tes atau ujian biasanya siswa lain stres dan gentar, tetapi kami sangat menikmati tes yang diadakan karena tidak banyak yang harus kami hafal dan tidak ada tekanan untuk mencapai target yang ditentukan pihak lain. Di Al Firdaus, kami sendiri yang menentukan kurikulum dan target belajar setelah diskusi dengan orang tua dan guru kelas.   

 

Selain itu, mata pelajaran Informatika dan Teknologi (IT) telah diajarkan sejak jenjang TPP Al Firdaus, yakni sekolah setingkat Taman Kanak-Kanak. Kondisi inilah yang mengakibatkan siswa di sini sangat progresif di bidang IT. Di sekolah ini juga ada PB robotik dan koding. Perumpamaan mengetahui ilmu IT bagai memiliki kapal cepat dan modern. Kapal ini adalah kendaraan utama untuk berlayar dan menjelajahi dunia global dalam pendidikan, informasi dan dunia kerja. Tanpa kapal ini, siswa akan tertinggal di dermaga, tidak mampu bersaing, dan tidak bisa menjangkau capaian yang jauh, karena siswa tidak bergerak ke mana-mana.

 

Kedua guru kami inilah yang membuka peluang baru bagi kami untuk mengadakan berbagai kompetisi yang baru dengan semangat generasi z sepertiku. Tantangan ini yang mendorong kami melakukan apa pun demi menyukseskan acara tersebut karena para guru bersedia mengakomodasi masukan dan harapan kami. Model guru seperti inilah yang kami dambakan: guru yang tidak hanya memerintah, tetapi juga mendidik, guru yang tidak hanya sekedar mengajar, tetapi juga memberikan teladan yang baik kepada siswanya. Di Al Firdaus, siswa dianggap sebagai mitra diskusi, bukan hanya objek dalam proses belajar mengajar. Kami merasa dianggap sebagai subjek manusia, kendati kami masih dalam fase remaja.

 

Pada penghujung acara, terjadi hal yang di luar prediksi semua pihak. Selain berperan sebagai penyelenggara, kami pun berhasil menyabet juara pertama dalam agenda tersebut. Kami diliputi rasa bangga dan bahagia. Berkat kasih sayang, atensi, dan kepercayaan para guru, kami dapat belajar menjadi manusia dewasa yang juga ingin dibanggakan dan kami memiliki loncatan yang besar.