Guru Sebagai Agen Transformasi Etika

Jika kita menelisik lebih dalam, salah satu persoalan mendasar dunia pendidikan kita sesungguhnya adalah kita tidaklah sedang melaksanakan pendidikan dalam arti sebenarnya, tapi hanya sekedar pengajaran. Transformasi yang terjadi hanya sebatas ilmu dengan gaya bank. Sebuah transformasi yang hanya melibatkan peran keilmuan guru dan kebodohan murid.

Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, anak didik hanya menghafal seluruh yang diceritakan oleh gurunya tanpa mengerti. Anak didik adalah obyek dan bukan subyek.

Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada anak didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan.

Anak didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya anak didik itu sendiri yang “disimpan” sebab miskinnya daya cipta. Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia. Asumsinya, murid menjadi pintar berkat pengajaran sang guru.

Pendidikan tidak dianggap begitu penting, mungkin saja karena hasilnya dianggap kurang konkret. Justru, pengajaranlah yang begitu ditekan habis-habisan. Pendidikan dan pengajaran yang menjadi jargon sistem pendidikan kita selama bertahun-tahun, dengan demikian menghasilkan format yang tidak seimbang.

Dalam hal pengajaran guru akan bertindak sebagai orang yang paling pintar di kelas, dan siswa adalah objek yang dikenai blue print kemana guru berkehendak, sementara dalam pendidikan, yang lebih ditekankan adalah transformasi perilaku, transformasi etika, transformasi moralitas, bukan transformasi gaya berpikir. Tentu konsep pendidikan sesungguhnya mempunyai ruang lingkup yang lebih luas ketimbang sekadar pengajaran.

Jika seorang guru hanya menjadi penyebar pengetahuan, apa bedanya ia dengan Google? Apa bedanya ia dengan Wikipedia? Bahkan, pengetahuan yang dimiliki oleh Google dan/atau Wikipedia jauh lebih luas dibandingkan pengetahuan seorang guru. Google lebih pintar, Wikipedia lebih berpengetahuan.

Pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kehidupan akan berkembang dengan optimal mana kala ada “pemerdekaan”. Pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika tidak ada suasana yang memerdekakan. Semua manusia sepakat, hanya dengan pendidikan yang berkualitas bisa mengantarkan anak menjadi insan yang berkualitas.

Ukuran berkualitas tentu saja bukan karena siswa mempunyai nilai sembilan atau sepuluh dalam ijazahnya karena nilai ijazah atau surat kelulusan sekolah yang sekarang ini terjadi hampir tidak mengukur kompetensi yang sebenarnya ketika menghadapi realitas sosial kehidupan. Indikasi manusia berkualitas adalah manakala seseorang sanggup memecahkan persoalan kehidupannya, kreatif, mandiri, beretika dan terus bersemangat mengembangkan pengetahuannya sehingga merasa hidup sejahtera dan berguna bagi orang lain.

Oleh karena itu, tugas seorang guru bukan hanya melulu mentransformasi pengetahuan (transformation of knowledge), tetapi yang jauh lebih penting, seorang guru juga harus mentransformasi etika (transformation of ethic). Bukan hanya transfer tapi transformasi!

Guru menjadi role model/teladan bagi anak-didiknya tentang pengarus-utamaan etika dalam kehidupan sehari-hari. “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani“, demikian ujar Ki Hajar Dewantara.

Bisa kita bayangkan contoh kasus konkret sosok pendidik yang (maaf) cabul kepada siswanya, atau figur guru “killer” yang anti kritik dan dialog. Pendidikan menjadi roboh, kehilangan teladan, yang terjadi adalah penindasan.

Seorang guru idealnya menjadi pribadi yang jujur dan bersahaja terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang kejujuran dan kebersahajaan kepada murid. Jujur dan bersahaja adalah dua nilai etika yang wajib dimiliki oleh para akademisi di sekolah. Tanpa dua nilai itu -jujur dan bersahaja- para akademisi akan menjadi manusia jahat, betapapun pintarnya. Koruptor, misalnya, adalah orang-orang pintar yang mengalami krisis kejujuran dan kebersahajaan.

Dan, di abad 21 ini kita semakin melihat bahwa etika lebih dibutuhkan ketimbang pengetahuan. Orang pintar yang tidak jujur, ia menjadi hukuman bagi peradaban. Sebaliknya, orang yang pandir tapi jujur, ia masih dirindu.

Menjadi guru berarti harus siap menjadi teladan etika, menjadi among dan pamong yang ngemong dalam bahasa Ki Hajar Dewantara.

Oleh:

Irqas Aditya Herlambang, S.Sos

Staff Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus

 

Bahan Bacaan Tambahan:

Dhakiri, Hanif.  Paulo Freire, Islam, dan Pembebasan, (Jakarta: Penerbit Pena, 2000)

Freire Paulo. Pedagogy of the Oppressed (New York : Continuum, 2000)

Samba, Sujono. Lebih Baik Tidak Sekolah (Yogyakarta: LKiS, 2007)

Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Karja Ki Hajar Dewantara, Bagian I: Pendidikan (Yogyakarta: Taman Siswa, 1962)